• Rabu, 1 Desember 2021

Agama & Adat: Pernikahan Sah Bagi Milenial Jadi Perhatian

- Selasa, 18 Juni 2019 | 05:42 WIB
nikah reza bela - Prima Mb Nuwa
nikah reza bela - Prima Mb Nuwa

DEPOK (eNBe Indonesia) - Pengaruh teknologi, kehidupan modern, perkembangan gaya hidup, tidak selalu dimaknai positif bagi generasi milenial, karena generasi ini lebih memilih rasional dalam membuat pilihan hidup sekaligus tidak ingin menjadikan pilihan hidup sebagai beban.

Akibatnya, generasi milenial cenderung mengabaikan kearifan-kearifan budaya. Orang tua dan para tokoh adat tidak menyerah, justru mereka terus mencari cara mempengaruhi cara berpikir generasi milenial dan menanamkan pengertian dan keyakinan yang kuat pada kearifan-kearifan budaya itu.

"(Generasi Milenial) diajak untuk menghayati dan menjalankan budayanya, dan hidup sesuai dengannya agar hidup (menjadi) penuh makna," ujar Yosef Juwa Dobe Ngole, tokoh NTT di Jakarta, yang juga tokoh adat Nagekeo, kepada Redaksi belum lama ini.

Dobe Ngole, didukung istrinya Nina Sibuea, intens melestarikan kegiatan-kegiatan budaya Nagekeo di Jakarta, terutama menyasar kaum muda atau milenial yang lahir dan tumbuh dewasa di perantauan. "Semoga ini awal bagi orang Nagekeo khususnya di perantauan untuk kenal, menghayati dan hidup dengan budayanya," ujar Dobe Ngole, setelah meresmikan pernikahan secara adat bagi pasangan Yohanes Reza Pradipta Gero & Katarina Tily Rheabela pada Sabtu pekan lalu (15/6).

-
-
-


Reza dan Bela bekerja di Kompas TV. Reza adalah putra sulung dari Pieter P Gero, salah satu elit (redaksi eksekutif) di Harian Umum Kompas, asal Nagekeo, NTT. Sementara Bela adalah turunan melayu.

Tidak seperti biasanya, kali ini Dobe Ngole menggelar upacara adat (khusus segmen meresmikan sebuah perkawinan) di acara resepsi pernikahan, sehingga bisa ditonton semua undangan yang hadir. Selama ini, upacara adat untuk pasangan menikah digelar di rumah keluarga.

Dalam pernikahan Reza & Bela, Dobe Ngole memimpin ritus So Topo Seli Bhuja, Ti'i Te'e Pati Lani (menyerahkan pedang menyelipkan tombak, memberikan tikar membagikan bantal) yang bermakna bahwa perkawinan Reza & Bela dinyatakah sah atau resmi secara adat budaya Nagekeo, setelah Gereja (Agama) meresmikannya.

-
-
-


"Keluarga mempelai pria menyerahkan pedang menyelipkan tombak kepada keluarga mempelai wanita sebagai lambang mempelai wanita diterima sebagai istri dan warga keluarga suami. Sebagai balasannya keluarga mempelai wanita menyerahkan tikar membagikan bantal kepada keluarga mempelai pria sebagai lambang hidup bersama sebagai suami istri.

"Kami mo'o so topo woso woso, mo'o seli bhuja negi negi (menyerahkan pedang yang banyak dan menyelipkan tombak begitu kuatnya)," ujar Dobe Ngole, lalu menyerahkan tombak dan parang kepada keluarga mempelai wanita, yang artinya sang istri berkuasa penuh atas rumah suaminya.

Ritus Ti'i Te'e Pati Lani (memberikan tikar membagikan bantal) adalah bukti orangtua memperkenankan putrinya menjadi istri mempelai pria. Sebagai balasan, keluarga mempelai wanita menyerahkan seperangkat kain adat sebagai tanda kasih. Selanjutnya, sang ibu dari mempelai wanita memberi kata-kata terakhir (pesan) kepada putrinya.

-
-
-


Dobe Ngole selaku tokoh adat dan juru bicara (bheto lewa tali nao) kemudian meminta salah satu wakil dari keluarga mempelai wanita memerciki air putih di dalam tempurung di pelataran resepsi, sebagai lambang mendinginkan suasana agar semuanya berjalan lancar aman dan damai. Ibu dari Bela pun menyematkan kain ke kepala dan bahu putrinya (ritual ubu leza) sebagai lambang melepas pergi anak tersayang untuk mulai berumah tangga, disertai doa dan berkat.

Respesi pernikahan Reza & Bela pun menjadi penuh warna karena ruangan itu didominasi oleh keluarga dan undangan dengan pakaian motif Nagekeo. Design ruang pesta dan tempat pelaminan pun begitu etnik, seolah menghadirkan rumah dan suasana kampung di Nagekeo ke tengah-tengah generasi milenial di kota Jakarta.

-
-
-


Nina Sibuea mengaku puas karena karya dan perannya (Vesam Etnik Nusantara) dalam resepsi pernikahan Reza & Bela mendapat apresiasi positif dari generasi milenial. Nina, sosok yang sangat mencintai budaya Nagekeo khususnya dan NTT pada umumnya, sudah sangat populer di kalangan industri kreatif dan budaya di Jakarta, terutama di lingkungan Kementrian UKM dan Koperasi. Dengan semakin sering diundang kementrian UKM dan koperasi di Jakarta, juga penyelenggara pameran budaya dan UKM, Nina lebih fokus untuk memperbanyak produk kreatifnya.

Oleh Hans Obor

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

X