• Senin, 24 Januari 2022

Rapat Nakes-DPRD Sikka Berakhir Ricuh, Anggota DPRD Ini Sampai Robek Baju

- Selasa, 13 Juli 2021 | 05:07 WIB
Rapat Nakes-DPRD Sikka Berakhir Ricuh, Anggota DPRD Ini Sampai Robek Baju
Rapat Nakes-DPRD Sikka Berakhir Ricuh, Anggota DPRD Ini Sampai Robek Baju

JAKARTA (eNBe Indonesia) -- Rapat dengan pendapat (RDP) antara tenaga kesehatan dan DPRD Sikka berakhir dengan kericuhan. Seorang anggota DPRD Sikka sampai nekat merobek bajunya di depan peserta rapat.

Rapat tersebut digelar atas inisiatif 16 organisasi profesi kesehatan Kabupaten Sikka yang mengaku kecewa dan terluka oleh pernyataan salah satu anggota DPRD Sikka dari Fraksi PDI Perjuangan Benediktus Lukas Raja.

Rapat digelar di Kantor DPRD Sikka, Senin (12/7), dimana organisasi profesi menyampaikan pernyataan sikap bersama dan meminta klarifikasi langsung dari Diki Raja.

Setelah perwakilan nakes, Dokter Mario B. Realino Nara, menyampaikan 6 pernyataan sikap mereka, rapat dilanjutkan dengan dialog bersama lembaga DPRD Sikka.

Urun-rembuk kira-kira berjalan tiga jam. Namun kedua pihak tidak menemukan kesepakatan atau solusi untuk bersama-sama menangani masalah Covid-19 di Sikka.

Di tengah situasi tegang tersebut, Ketua DPRD Sikka Donatus David mengetuk palu untuk mengakhiri Rapat Dengar Pendapat itu.

Padahal belum ada kesepakatan atau kesimpulan antara DPRD dan perwakilan nakes dari 16 organisasi profesi tersebut.

Lantas, salah satu anggota DPRD yakni Frans Sinde tidak menerima dengan keputusan pimpinan DPRD yang menutup sidang. Pasalnya saat itu dia masih mau berbicara.

Akhirnya, dia pun berteriak keras di ruangan itu, lalu bangkit berdiri dan membanting salah satu dokumen di mejanya dan juga kursi-kursi yang berada di ruangan rapat tersebut.

Frans terus mengamuk bahkan sampai nekat merobek baju dinasnya. Dia merasa haknya sebagai anggota DPRD dilecehkan.

Kemudian terlihat beberapa anggota DPRD lain berusaha menenangkan Frans agar tidak menciptakan kegaduhan yang tak perlu.

Sementara itu, Ketua DPRD yang tidak mau ambil pusing bergegas meninggalkan ruangan sidang yang diikuti aggota DPRD lainnya.

Para nakes yang menyaksikan peristiwa tersebut tercengang dan tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka pun keluar dari ruangan.

Nakes Minta Sanksikan Diki Raja


Ada 16 organisasi profesi bidang kesehatan Kabupaten Sikka yang hadir dalam rapat dengan DPRD Sikka, Senin (12/7).

Dalam pernyataanya, mereka menuntut sanksi kepada anggota DPRD Sikka Diki Raja terkait pernyataannya yang menyebut tenaga kesehatan menjadi Covid-19 sebagai proyek.

"Kami mendesak Badan Kehormatan DPRD Kabupaten Sikka untuk memberikan sanksi kepada anggota DPRD Sikka atas nama Bapak Benediktus Lukas Raja atas berbagai pernyataannya yang berpotensi menimbulkan rasa tidak percaya masyarakat kepada tenaga kesehatan [dan fasilitas kesehatan], melemahkan upaya pencegahan dan penanggulangan Covid-19 yang sedang giat kita lakukan dan terutama membahayakan keselamatan rakyat Sikka dalam masa pandemi Covid-19," ujar Dokter Mario B. Realino Nara saat membacakan sikap 16 organisasi profesi kesehatan di Kantor DPRD Sikka.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Sikka ini menegaskan bahwa apa yang disampaikan Diki Raja dalam RDP DPRD dengan Ketua Satgas Covid-19 yaitu Bupati Sikka Robby Idong, sangat kontraproduktif dengan komitmen pemerintah, baik pusat maupun daerah yang bahu-membahu memerangi bersama wabah yang bermula di China ini.

Menurut Mario, pernyataan Diki Raja sangat kontroversial dan bisa memicu ketidakpercayaan masyarakat terhadap otoritas kesehatan Kabupaten Sikka.

"Kami menyesalkan pernyataan-pernyataan anggota DPRD Sikka atas nama Bapak Benediktus Lukas Raja dalam video tersebut yang kontraproduktif pada upaya pencegahan dan penanggulangan Covid-19 di Kabupaten Sikka. Ujaran ini berpotensi menimbulkan rasa tidak percaya masyarakat kepada tenaga kesehatan [dan fasilitas kesehatan], melemahkan upaya pencegahan dan penanggulangan Covid-19 yang sedang giat kita lakukan dan terutama membahayakan keselamatan rakyat Sikka dalam masa pandemi Covid-19," pungkas Mario.

Dia mengatakan bahwa organisasi profesi kesehatan Kabupaten Sikka membantah tuduhan Diki Raja yang menyebut para nakes menjadi Covid-19 sebagai ladang proyek untuk meraup keuntungan tertentu.

Organisasi profesi pun mendesak Diki Raja menyertakan fakta dan bukti-bukti ilmiah dan nyata mengenai tuduhan tersebut.

"Kami menolak dan membantah dengan tegas beberapa pernyataan Bapak Benediktus Lukas Raja dalam tayangan video tersebut. Kami menuntut klarifikasi atas berbagai pernyataan dan tuduhan BapakBenediktus Lukas Raja yang tidak sesuai dengan fakta yang ada," papar Mario.

Mario lebih lanjut mengatakan bahwa organisasi profesi menuntut Diki Raja menyampaikan permintaan maaf kepada publik atas pernyataannya yang meresahkan.

"Kami mendesak permohonan maaf Bapak Benediktus Lukas Raja secara terbuka di media massa selama 3 hari berturut-turut, apabila beliau tidak sanggup membuktikan pernyataan dan tuduhannya dalam video tersebut," tegas Mario.

Mario pun mengingatkan Diki Raja agar tidak pongah dan gegabah dalam memberikan pernyataan mengenai Covid-19 jika tidak memahami betul fakta mengenai Covid-19.

Sebagai anggota DPRD Sikka yang juga adalah wakil para nakes di parlemen, Mario tidak lagi menciptakan kegaduhan yang tidak berdasarkan fakta-fakta yang bisa dipertanggungjawabkan.

"Kami mendesak agar Bapak Benediktus Lukas Raja tidak melakukan tindakan gegabah berkaitan dengan upaya pencegahan dan penanggulangan Covid-19 di kabupaten Sikka, terutama melalui media seperti yang telah dilakukan dalam postingan Facebook beberapa saat lalu," pungkas Mario.

Sebelumnya, Diki Raja menuduh para nakes di Sikka menjadikan Covid-19 sebagai proyek untuk mencari keuntungan. Salah satunya karena dia melihat kasus Covid-19 terus naik.

"Jangan sampai pandemi ini dijadikan proyek untuk menghabiskan uang rakyat. Siapa yg habiskan, kita semua tahu. Bisnis rapid test, bisnis APD, bisnis obat-obatan. Pak Bupati, Pak Sekda, tolong dievaluasi juga dengan para dokter. Kita setuju kita perhatikan mereka. Mereka adalah garda terdepan. Para Nakes. Tapi jangan jadikan ini sebagai proyek," ujar Diki Raja dalam RDP pada 9 Juli lalu.

"Jangan sampai di RS semua fokus urus Covid-19 karena insentifnya besar, kalau penyakit jantung, ginjal, usus buntu, dll-kan biayanya kecil. Sehingga orang tidak fokus itu. Yang diurus adalah Covid. Kalau mau ke UGD, harus dirapid dulu. Tunggu hasilnya berjam-jam," imbuh Diki Raja.*

Penulis: Denis Deha

Editor: Redaksi

Tags

Terkini

Vaksin Kedua Covid-19 Capai 123.78 Juta Orang

Minggu, 23 Januari 2022 | 19:05 WIB

Capaian APBN Baik, Pemda Akan Dapat Insentif

Minggu, 23 Januari 2022 | 18:57 WIB

Indonesia Terima 1.2 Juta Dosis Vaksin Pfizer

Minggu, 23 Januari 2022 | 15:31 WIB

Johnny Plate Ajak Media Sukseskan MotoGP Mandalika

Sabtu, 22 Januari 2022 | 11:12 WIB

Alasan Penting Diperlukannya Vaksin Booster Covid-19

Sabtu, 22 Januari 2022 | 10:33 WIB

Prabowo Ungkap Ancaman Terhadap Pertahanan Indonesia

Jumat, 21 Januari 2022 | 15:23 WIB

Ibu Kota Pindah, Jakarta Tetap Jadi Magnet

Kamis, 20 Januari 2022 | 19:26 WIB

Ibu Kota Negara Andalkan Jaringan Palapa Ring

Kamis, 20 Januari 2022 | 18:52 WIB

Pembangunan IKN Harus Perhatikan Amdal dan Sosiologis

Kamis, 20 Januari 2022 | 15:56 WIB

Jokowi Ingatkan Sejumlah Ancaman Ekonomi Indonesia

Kamis, 20 Januari 2022 | 15:52 WIB

Kepala Ibu Kota Baru: Risma atau Ahok?

Kamis, 20 Januari 2022 | 09:50 WIB

Jokowi Anjurkan Kerja Dari Rumah

Rabu, 19 Januari 2022 | 18:29 WIB

Polri Siapkan Personel di Ibu Kota Baru

Rabu, 19 Januari 2022 | 10:12 WIB

UU IKN Sah, Pemindahan Lembaga Bertahap

Rabu, 19 Januari 2022 | 10:08 WIB

DPR Resmi Sahkan UU IKN

Selasa, 18 Januari 2022 | 15:17 WIB
X