• Kamis, 8 Desember 2022

KATOLIK TIDAK MENYEMBAH PATUNG, Tanggapan terhadap daniel mananta dan Ustadz Abdul Somad

- Sabtu, 19 November 2022 | 15:30 WIB
Valens Daki-Soo
Valens Daki-Soo


Oleh Valens Daki-Soo*)

INI juga "simbolis": mengitari Ka'bah (thawaf) dan mencium Hajar Aswad (batu hitam) bukan berarti menyembah Ka'bah. Selamat jadi pengikut baru agama Islam alias mualaf, bung daniel mananta.

Sama sekali tidak ada masalah dengan itu, karena sepenuhnya hak setiap orang untuk memilih beragama apapun -- bahkan untuk tidak beragama.

Jadi, kalau selama ini anda memeluk Katolik lalu tergerak hati untuk menganut Islam (menjadi Muslim), itu oke saja bila menjadi kebaikan dan kebenaran yang anda yakini.

Namun, secara ringkas-pendek saya beri koreksi untuk anda (terkait wawancara anda dengan Ustadz Abdul Somad alias UAS baru-baru ini).

Kami tidak menyembah patung. Jika Anda terpengaruh oleh UAS untuk meraih "persepsi baru" bahwa orang Katolik menyembah patung, itu mutlak keliru dan anda terjebak dalam kesalahpahaman yang sungguh infantil, kekanak-kanakan.

Baca Juga: Reaksi Daniel Mananta Ditanya Soal Mualaf: Diam dan Banting Ponsel

Kutipan dari Kitab Yesaya dalam Alkitab Perjanjian Lama pun tidak kontekstual. Anda melepaskan satu ayat dari konteks utuhnya.

Bung, patung di dalam gedung gereja Katolik atau di rumah-rumah umat Katolik hanyalah sarana untuk membantu menciptakan suasana sakral-religius. Yang sejatinya disembah adalah Tuhan, patung hanyalah alat simbolisasi kehadiran Yang Ilahi.

Bila Anda menyimpan foto ibu atau istri/kekasih Anda, lalu karena merasa rindu dan cinta Anda mencium foto tersebut, itu tidak berarti Anda "menyembah" foto. Anda bahkan bukan sesungguhnya mencium foto itu, tetapi membayangkan mencium ibunda atau kekasih Anda.

daniel mananta dan Ustadz Abdul Somad - foto suara.com


Anda pernah belajar Filsafat? Jika tidak, karena Anda murni seorang artis, saya beritahu ini. Seorang pakar filsafat budaya Ernst Cassirer menyebut manusia adalah "homo symbolicum" (makhluk simbolis). Memang, manusia adalah "ens culturale" (makhluk budaya).

Ya, manusia butuh simbol-simbol (dan ekspresi budaya lainnya) untuk menandai, memaknai, membantu pengungkapan dirinya, termasuk dalam beragama. Patung itu hanyalah simbol.

Baca Juga: Wamendagri Berharap Keberadaan Empat DOB di Papua Membawa Kesejahteraan Bagi Masyarakat

Sekali lagi, yang dihormati, dicintai dan disembah adalah "sesuatu/siapa" yang disimbolkan oleh patung dan sarana ibadah lainnya.

Anda pernah belajar Teologi? Setidaknya pernah baca satu-dua buku? Kami (saya mantan calon pastor Katolik) belajar belasan tahun -- itupun rasanya belum memadai -- untuk cukup memahami "sensus fidei" (rasa keberimanan) dalam berbagai les filsafat, teologi dan sejumlah ilmu/matakuliah lainnya.

Kami pun belajar matakuliah Ilmu Perbandingan Agama, Islamologi, Hinduisme, Buddhisme, bahkan Ateisme. Dengan belajar Islamologi, kami memahami nilai-nilai kebaikan universal yang diajarkan Islam.

Bahkan dengan itu kami pun memahami hal "simbolis": misalnya dengan mengitari Ka'bah (thawaf) dan mencium Hajar Aswad (batu hitam), bukan berarti umat Muslim menyembah Ka'bah.

Atau jangan-jangan Anda berpikir itu menyembah Ka'bah? Semoga anda tidak salah-paham.

Baca Juga: Survei SSI 63,6 Persen Responden Puas Dengan Kinerja Jokowi

Untuk para kerabat semua: dalam segala hal, belajarlah dari pakarnya. Jika anda bermasalah dalam kejiwaan, dengarlah psikolog dan psikiater.

Jika anda sakit perut berkepanjangan, pergilah ke dokter spesialis penyakit dalam. Jika anda ingin memahami Big Bang (Ledakan Besar) terkait terjadinya alam semesta, pergilah ke pakar fisika.

Jika anda Katolik atau Islam, atau agama apapun, lalu anda mengalami krisis iman, pergilah ke tokoh/pakar agama anda dan konsultasi-lah dengan mereka.

Atau, kalau saya sendiri sering bikin: pergilah juga ke dalam diri sendiri di tengah keheningan dan dengarkan suara hari anda bicara.

*) Penulis adalah alumnus Sekolah Tinggi Filasat dan Teologi Ledalero, Flores

Editor: Adrianus Nulangi Madaala

Tags

Terkini

Depok & Upaya Membangun Toleransi

Selasa, 11 Oktober 2022 | 21:18 WIB

Halusinasi Politik SBY Jelang Pilpres 2024

Selasa, 20 September 2022 | 15:01 WIB

SAMBO DIPECAT, SAMBO MELAWAN

Sabtu, 27 Agustus 2022 | 20:05 WIB

Flores, Rahim Baru Para Misionaris

Sabtu, 27 Agustus 2022 | 10:24 WIB

Kaji Banding Atau Jalan Jalan Dibiayai APBD Sikka

Rabu, 10 Agustus 2022 | 16:41 WIB

Reaksi Pengamat atas Kunjungan Nanci Pelosi

Senin, 8 Agustus 2022 | 10:20 WIB

Klaim Teritori Sebagai Kegelisahan Malaysia

Selasa, 2 Agustus 2022 | 10:25 WIB

Mencermati Kunjungan Ramos Horta

Selasa, 2 Agustus 2022 | 10:15 WIB

Agresivitas Anggota Polri Bersenjata

Kamis, 21 Juli 2022 | 15:58 WIB

Sensitivitas Agama Kekinian

Kamis, 21 Juli 2022 | 15:46 WIB

Launching Gegabah

Jumat, 15 Juli 2022 | 14:51 WIB

RENDANG PUN BERAGAMA

Sabtu, 25 Juni 2022 | 22:49 WIB

MEMAKNAI PERAYAAN 1 JUNI 2022

Sabtu, 18 Juni 2022 | 16:20 WIB
X