• Senin, 24 Januari 2022

Gone But Not Forgotten: Mengenang Georgius Soter Parera, SH, MPA

- Kamis, 13 Januari 2022 | 21:15 WIB
Georgius Soter Parera, SH, MPA
Georgius Soter Parera, SH, MPA

Oleh Ans Gregory da Iry

TANGGAL 21 Januari 2022 mendatang akan genap setahun meninggalnya Georgius Soter Parera, 72 tahun, seorang saudara dan sahabat yang baik hati, ramah, perhatian, hangat, bersimpati dan empati kepada sesama.

Soter Parera, SH, MPA pernah menjabat Kepala BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), 2002-2008 dan sebelumnya Kepala BKKBN Kota Blitar di Jawa Timur, 2001-2002.

Selain dikenal sebagai seorang pejabat pemerintah yang sangat concern terhadap masalah-masakah keluarga berencana, dia juga aktif dalam banyak kegiatan sosial kemasyarakatan dan keagamaan.

Lulusan Sarjana Hukum (SH) dari Universitas Negeri Brawijaya, Malang dan Master of Public Administration (MPA) dari University of Pittsburgh, Pennsylvania Amerika Serikat ini juga pernah menjadi dosen di Universitas Negeri Nusa Cendana, Kupang dan Universitas Negeri Airlangga, Surabaya.

Soter Parera wafat akibat terpapar virus Corona-19, meninggalkan seorang istri, DR. Sabina Gero, dua orang putra dan 2 menantu wanita serta 3 cucu.

Terkejut membaca berita meninggalnya di Facebook.

Pada awal Januari 2021, kami berdua masih saling kontak lewat telepon. Dari Kupang dia bercerita bahwa dia ingin mengunjungi Pater Alex Beding SVD di Ledalero.

Sudah kangen, ingin bertemu pada saat ulang tahun ke 97 Pater Alex, tanggal 13 Januari 2021.

Sesudah itu beberapa hari tidak ada kontak. Tiba-tiba saya membaca di laman Facebook seorang teman bahwa Soter meninggal dunia.

Saya terkejut dan mencoba menghubungi nomor teleponnya tetapi tidak aktif. Kontak ke nomor adiknya Klemens Parera, juga tidak aktif.

Mencoba ke nomor beberapa teman Alsemat (Alumni Seminari Mataloko) di Kupang, juga tidak berhasil.

Akhirnya saya pasrah, menunggu saja mungkin akan ada kabar yang lebih jelas tentang Soter.

Dua hari berikutnya, saya menerima panggilan telepon Pater Alex Beding dari Ledalero. Dengan nada suara yang sedih Pater bilang:

“Pak Soter meninggal, Ans sudah tahu?” Saya jawab,”Ya Pater, saya sudah tahu dari membaca tulisan di Facebook. Saya sudah coba menghubungi nomor teleponnya dan juga Klemens adiknya, tetapi tidak berhasil. Jadi
praktis saya belum tahu sakit apa dan bagaimananya...”

“Kita kehilangan seorang sahabat yang baik, yang penuh perhatian, punya simpati dan empati yang besar. Kalau Soter tidak ada, bagaimana dengan hubungan pertemanan kita, apakah Alsemat 60-70 masih akan jalan?” kata Pater.

“Ya, Pater. Orang baik ini memang telah pergi. Kita doakan agar jiwanya mendapat tempat yang layak di surga. Kalau soal Alsemat, saya rasa akan tetap jalan, karena banyak teman-teman kita yang masih ada, dan mereka juga pasti ingin berkomunikasi dan bernostalgia dengan sesama,” kataku mencoba meyakinkan Pater.

Belakangan saya menerima pemberitahuan/undangan dari Ense Solapung, seorang kerabatnya di Jakarta untuk mengikuti misa live streaming pada Sabtu, 27 Februari 2021 dalam Misa Arwah “Sumana Lima” (Doa Minggu ke lima menurut tradisi Sikka) dari gereja St. Paskalis, Cempaka Putih, Jakarta.

Dari informasi yang disampaikan Ense, saya mengetahui lebih detil mengenai peristiwa meninggalnya Soter Parera.

Tetangga di Lela

Sejak remaja kami sudah saling mengenal di Lela, Flores, karena rumah kami bersebelahan, hanya berjarak 20 sampai 30 meter.

Waktu itu saya tinggal di rumah keluarga Bapak Felix Parera, meneruskan sekolah di SDK Lela I setelah sebelumnya saya sekolah di SDK Hebing, kampung halamanku.

Tetangga rumah sebelah, keluarga ‘Inang Marta, adalah seorang ibu janda yang ramah, baik hati, suka tegur sapa termasuk dengan kami anak-anak.

Dua orang putra ‘Inang Marta yaitu Soter Parera dan Klemens Parera sekolah di Seminari Mataloko.

Di rumah kami, kakak Ely Moritz Parera, anak sulung Bapak Felix, juga sekolah di seminari yang sama.

Karena mereka sekolah di tempat yang jauh dan baru berlibur di rumah setahun sekali, maka pada kesempatan itulah kami bisa bertemu.

Sebagai remaja yang ingin masuk Seminari Mataloko, saya senang mendengar ceritera mereka tentang seminari, tentang perjalanan dengan naik kapal motor St. Theresia dari Lela ke Aimere untuk kemudian naik truk atau traktor ke dataran tinggi Mataloko yang udaranya sejuk dan nyaman.

Sesekali mereka juga bercerita tentang keadaan di asrama seminari, tentang main sepakbola, basket, voley, tentang ruang kelas, guru-guru yang kebanyakan orang bule (misionaris asing: Belanda, Jerman, Austruia, Amerika).

Semua ceritera tentang Seminari Mataloko pasti menarik, apalagi bagi saya yang memang sangat ingin masuk seminari.

Selain itu saya juga ingin bersekolah di tempat yang jauh... ada jiwa merantau pada diri saya.

Dan sesekali pulang bertemu keluarga. Harus ada rasa kangen untuk bertemu dan melepas rindu.

Bagi saya, kalau kumpul-kumpul terus dekat keluarga, rasanya kok kurang sreg begitu...

Ketika pada akhir kelas 6 SDK Lela I, saya diterima masuk Seminari Mataloko, betapa senangnya hati saya. Mimpi saya akan terwujud, yakni sekolah di seminari.

Halaman:

Editor: Christianus Wai Mona

Tags

Terkini

Pemuda Katolik Lantik Pengurus Pusat

Senin, 10 Januari 2022 | 22:09 WIB

Gubernur DKI Jakarta: Bang Yos Akui Anis Baswedan

Senin, 3 Januari 2022 | 16:44 WIB

Gibran Wali Kota Terpopuler Versi Indonesia Indicator

Kamis, 30 Desember 2021 | 16:22 WIB
X